Entah kenapa, dibalik banyak kekurangan yang dimilikinya, tetap saja lebih banyak kebaikannya yang tampak dimataku..
Biarpun kadang sangat jelas terasa betapa menjengkelkannya dia, tetap saja hati ini masih bisa rindu akan cerita hariannya, celetukan, senyum, tawa, bahkan sekedar hadir dlm kebisuannya.
Disini, ditempat ini, masih terekam dengan baik caranya menatapku sambil tersenyum, atau saat dia menundukkan wajah ketika keberanianku untuk balik menatapnya muncul, apalagi suaranya saat menertawakan cerita yang kuperdengarkan untuknya, bahkan cara memegang sendok sembari mulutnya mengeluarkan kata paksaan agar menemaninya makan belum terhapus dari ingatan.. Belum lagi pujian yang diberitahukannya melalui teman-temanku..
Ooh Tuhan, kejadian yang seperti itu saja sudah membuatku merasa menjadi orang paling beruntung di dunia. Terima kasih Tuhan, walau hanya sebentar kukecap bahagia itu.
Hal yang paling kusesali dalam sesuatu yg menurutku masih belum bisa disebut hubungan ini hanyalah pertemuan terakhir kami yang berakhir dengan muram di wajahnya.. Kami tidak banyak bicara saat itu lalu dia pergi. Percakapan selanjutnya hanya dilakukan melalui hp. Kesalahpahaman jelas terjadi disana untukku dan dirinya. Ketika itu tengah malam, niat baikku untuk meluruskan semuanya masih melalui hp ditampiknya dengan mengatakan dia sedang sibuk dan banyak masalah.
Kucoba untuk mengerti, bahkan dengan bodohnya saat itu aku kegirangan karena kukira dia sudah tidak marah lagi padaku, sikapnya yg berbeda hanya karena masalah dan kesibukannya.. Sangat khas anak kecil.
Namun kemudian, tak ada lagi sms, wall atau kabar yg datang langsung darinya.
Tuhan, ada apa dengannya? Pesan yang kukirim hanya di balas seperlunya, tidak seperti dulu lagi. Sehingga aku urung untuk menanyakan tentang kami, aku dan dia. Sampai hari ini, belum kudpt kepastian akan sikapnya.
Tuhan, aku tau aku keliru ketika membiarkannya yg sudah mempunyai hubungan dengan seseorang masuk dlm kehidupanku dengan sangat mudah.. Apa sekarang dia sudah melupakanku dan membiarkan dirinya sepenuhnya dimiliki oleh wanita itu? Apa saat itu dia hanya membantuku menghabiskan waktu bersamanya yang juga sedang kelebihan waktu? Atau aku memang telah berbuat salah yg tak kusadari dan dia terlalu marah bahkan hanya untuk mengakui kesalahanku?
Atau memang aku saja yg terlalu banyak berharap? Atau..
Terlalu banyak atau yg ada dipikiranku saat ini..
Aku hanya bisa berharap kamu bisa memberikan jawaban padaku, baik senyum atau tangis yang akan keluar diakhir.
Sayang kamu, BE..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar