Aku ini orang. Orang yg punya enam bayangan. Bukan karena badanku seperti enam orang (belum).Jadi apa yg kumaksud dengan bayangan? Kenapa harus bayangan? Karena hanya itu yg terlintas dikepalaku sekarang. Dan karena menurutku enam bayangan menggambarkan tubuhku yg sekarang ada karena sokongan dari enam itu, bukan hanya karena satu. Tak ada mereka, tak ada aku. Mereka adalah bagian dariku yg terpenting dr yg penting-penting jadi kusebut dengan bayangan. Bukan karena mereka dibawah bayang-bayangku, bukan, bukan itu. Selain itu juga, kupikir bayangan sebutan yg bagus. Atau ada sumbangan ide? Hahaha.
Suatu hari, satu bayangan yg kita sebut saja dengan Bonie melakukan sesuatu yg menurutku dan bayangan lainnya tidak tepat. Diwaktu itu, kami biarkan saja Bonie. Karena kami pikir, biarlah. Seseorang melakukan ketidaktepatan itu hal yg biasa. Aku juga pernah, sering malah. Bayangan yg lain juga. Tapi apa yg terjadi? Dia semakin terhanyut. Diwaktu itu dia masih saja kami biarkan. Karena kami mulai berpikir mungkin inilah kebahagiaannya walau dimulai dengan ketidaktepatan. Teruskan Bonie. Kami pun mendukungnya sepenuh hati dikala itu. Semua sarana dan prasarana kami pergunakan untuk mendorong langkahnya. Seperti yang diduga, dia bahagia. Itu saja. Sampai akhirnya Bonie terperosok ketika tak lagi kami perhatikan langkahnya. Dia yg membuat Bonie bahagia meninggalkannya begitu saja untuk yg lain. Yg baru, yg lebih daripada Bonie untuknya. Bonie pun kemudian datang terisak dihadapan kami. Kami pun mulai menata langkah, mengajari, menyemangati dan menghapus airmata Bonie lagi agar Bonie bisa menjadi seseorang yg baru, yg lebih tegar dan pintar daripada Bonie yg dulu. Paling tidak setara tapi sedikit lebih pintar sehingga tidak dibodohi seperti dulu. Tapi apa? Sekarang Bonie malah terjun bebas ke jurang, yg parahnya, jurang yg dulu juga. Yg itu-itu saja. Jurang yang dibuat oleh Dia yg meninggalkan Bonie dulu. Apa lagi yg diinginkan oleh pembuat jurang itu? Menghancurkan Bonie seperti kemarin lagi? Tidak akan kami biarkan. Itu kata-kata yg dulu akan kulontarkan untuk Dia. Tapi sekarang, -ketika Bonie mengacuhkan kata-kata lembut sampai makian kami yang dikeluarkan hanya untuk menyadarkannya- kami tidak pernah lagi akan berkata seperti itu. Bonie sudah dewasa, kami akan membiarkannya walau nanti dia akan jatuh lagi. Biarkanlah dia mengambil keputusannya. Buktikan pada kami bahwa pilihanmu itu benar. Jangan sampai kami tertawa diatas tangismu nanti sambil berkata "Benar kan apa yg kami bilang, Bon?"
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar